PUISI-PUISI USMAN AWANG
Dalam denyutan nadi gema puisinya Usman Awang ternyata melakukan banyak pembelaan sosial dan ekonomi. Beliau menulis tentang Kemiskinan, Penindasan, Kolonialisme dan Nasionalisma.Ketertipannya dalam isu-isu semasa berkaitan sejarah dan kenegaraan, kritikan seni dan halus beliau menjadikan intipan-intipan jiwa yang memahaminya.
Ideologi atau pegangan hidupnya yang berbentuk sastra sebagai manifestasinya, kadang-kadang kita dapat melihat bahawa kerja menulisnya itu adalah satu kegiatan politik yang memberikan keadaan gelap diantara manusia dan menuntut supaya tindakan diambil untuk memperbaikinya :
.......... Tahun ini aku bicara, mungkin banyak atau tidak.
Engkau juga teman, hanya jangan begitu berteriak.
Hidup bagiku bukan cuma mencoret-coret sajak.
Kiri kanan segala rasa tajam mendesak-desak.
Siapa yang mengerti, siapa yang mengerti saja.
Berbakti bukan sekali dan bukan satu cara
Keliling begitu robek mesti di zaman merdeka
Derai sorak di zaman ini
Belum bererti menjadi pasti
Kalau hanya pemimpin sendiri
Sedangkan kami tertindas lagi.
Tapi sejarah bisa berulang lagi
Dalam sorak kemenangan manusia mencari
Ahh... masing-masing mencari tempat sendiri
Tegak diatas kemelaratan kami
Itulah Bayangan zaman ini
Kulit hanya, isi tak berganti
* Begitulah antara bait-bait kritis puisi Usman Awang mengkritik dalam seni yang amat indah
Namun kebangkitan penyedaran dikalangan pembaca puitis terkadangkala amat kecil sekali . Segalanya hanyalah imbalan-imbalan nyata yang berkekalan untuk diterajui sampai bila-bila.
Muga puisi amanat Usman Awang akan terus membara membakar jiwa-jiwa yang terasa olehnya.
' HEBAT, SESUNGGUHNYA HEBAT '
Salam dari managro