Rerumah Shvoong > Buku > Hakekat Shaum (Puasa)

.

Hakekat Shaum (Puasa)

Summary rating: 2 stars 2 Ulasan
Pengarang : FIS1
Review by : Buwau
Lawatan : 120  Perkataan: 900   Diterbitkan pada: Januari 12, 2008
RAMADHAN secara etimologi berasal dari kata ramidha, yarmadhu, RAMADHAN
yang artinya terik, sangat panas atau terbakar (pembakaran). Adapun
menurut terminologi ramadhan dapat diartikan sebagai pembakaran,
peleburan atau penghapusan atas segala macam dosa. Berdasarkan dari
pengertian tersebut terkadang terjadi penyimpangan makna ramadhan pada
sebagian umat muslim. Dimana ada sebagian umat muslim yang
menyambut kedatangan bulan ini dengan cara menyulut petasan. Sehingga
dengan tindakannya tersebut ironis bagi mereka dapat meraih harapan
atau hikmah yang terdapat dalam bulan tersebut.Pada dasarnya
bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan maghfirah
(ampunan) sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari
menyatakan bahwa pada bulan ini Allah SWT akan membuka setiap pintu
surga dan akan membelenggu syaithan. Maka dengan terbukanya pintu surga
dan dibelenggunya syaithon dapat menjadi sarana untuk meningkatkan
kualitas keimanan dan ketaqwaan umat muslim. Selain itu ramadhan pun
merupakan satu bulan yang Allah SWT telah mewajibkan puasa terhadap
orang yang beriman. QS. Al-Baqarah 183Hakekat shaum (puasa)Shaum
menurut bahasa yaitu alimsak (menahan diri), adapun pengertian menurut
syari'' yaitu menahan diri dengan niat dari seluruh yang membatalkan
puasa seperti makan, minum dan bersetubuh mulai dari terbit fajar
sampai dengan terbenam matahari. (Anas ismail Abu Dzaud, 1996: 412)
Namun, secara implisit dalam puasa terdapat dua nilai yang menjadi
parameter antara sah atau rusaknya puasa seseorang.Pertama, Nilai
Formal yaitu yang berlaku dalam perspektif ini puasa hanya tinjau dari
segi menahan lapar, haus dan birahi. Maka menurut nilai ini, seseorang
telah dikatakan berpuasa apabila dia tidak makan, minum dan melakukan
hubungan seksual mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
Padahal Rasulullah SAW telah memberikan warning terhadap umat muslim
melalui sebuah haditnya yang berbunyi :"Banyak orang yang puasa mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja". H.R. bukhari.Dari
hadits tersebut kita dapat mengetahui bahwa hakekat atau esensi puasa
tidak hanya menahan rasa lapar, haus dan gairah birahi saja, melainkan
dalam puasa terkandung berbagai aturan, makna dan faedah yang mesti
diikuti.Kedua, Nilai
Fungsional yaitu yang menjadi parameter sah atau rusaknya puasa
seseorang ditinjau dari segi fungsinya. Adapun fungsinya yaitu untuk
menjadikan manusia bertakwa (laa''lakum tattaqun). QS. Al-Baqarah 183Kemudian
menurut nilai ini, puasa seseorang sah dan tidak rusak apabila orang
tesebut dapat mencapai kualitas ketakwaan terhadap Allah SWT.Maka dari itu, hakekat puasa dalam pandangan Rasyid Ridha adalah sebagaimana berikut ini:1. Tarbiyat aliradat (pendidikan keinginan)Keinginan
atau kemauan merupakan fitrah manusia. Tapi acapkali kemauan atau
keinginan yang dimiliki manusia tidak selamanya baik dan tidak pula
selamanya buruk. Karena itu puasa dapat mendidik atau membimbing
kemauan manusia baik yang positif maupun yang negatif. Dengan puasa,
kemauan positif akan terus termotifasi untuk labih berkembang dan
meningkat. Adapun kemauan negatif, puasa akan membimbing dan
mengarahkan agar kemauan tersebut tidak terlaksana.Adapun yang
menyebabkan kamauan seseoarang ada yang positif dan yang negatif,
sesuai yang diungkapkan oleh Imam Al-Gazali bahwa di dalam diri manusia
terdapat sifat-sifat sebagaimana berikut ini:• sifat Rububiyah, yaitu sifat yang mendorong untuk selalu berbuat baik.• Sifat Syaithoniyah, inilah sifat yang mendorong seseorang untuk berbuat kesalahan dan kejahatan.• Sifat Bahimiyah (kehewanan), sesuai dengan istilah yang diberikan pada manusia sebagai mahluk biologis.• Sifat Subuiyah, yaitu sifat kejam dan kezaliman yang terdapat dalam dari manusia.2. Thariqat almalaikatMalaikat
merupakan makhluk suci, yang selalu taat dan patuh terhadap segala
perintah Allah. Begitupun orang yang puasa ketaatannya merupakan suatu
bukti bajiwanya tidak dikuasai oleh hawa nafsunya. Juga, orang
puasa akan mengalami iklim kesucian laksana seorang bayi yang baru
lahir, jiwanya terbebas dari setiap dosa dan kesalahan. Inilah janji
Allah yang akan diberikan untuk orang yang berpuasa dan melaksanakan
setiap amalan ibadah pada bulan ramadhan.3. Tarbiyat alilahiyyat (pendidikan ketuhanan)Puasa
merupakan sistem pendidikan Allah SWT dalam rangka mendidik atau
membimbing manusia. Sistem pendidikan ini mengandung dua fungsi yaitu:a. Sebagai sistem yang pasti untuk mendidik manusia supaya menjadi hamba tuhan yang taat dan patuh.b.
Sebagai suatu sistem yang dapat mendidik sifat rubbubiyyah (ketuhanan)
manusia untuk dapat berbuat adil, sabar, pemaaf dan perbuatan baik
lainnya.4. Tazkiyat annafsi (penyucian jiwa)Hakekat
puasa yang keempat ini diungkapkan oleh Ibnu Qayim al Jauzi. Puasa
dapat menjadi sarana untuk membersihkan berbagai sifat buruk yang
terdapat dalam jiwa manusia. Adakalanya jiwa manusia akan kotor bahkan
sampai berkarat terbungkus oleh noda dan sikap keburukan yang terdapat
didalamnya. Maka wajar kalau puasa dapat menjadi penyuci jiwa.Dengan
demikian kesempatan hidup pada bulan ramadhan yang akan segera hadir,
semoga dapat dijadikan momen untuk menigkatkan kualitas iman dan takwa
serta untuk dapat menggapai maghfirah Allah SWT. Amiin. (Ayi Sugandi,
TA Perencanaan KMP)

Ulasan lain tentang Hakekat Shaum (Puasa)
Hakekat Shaum (Puasa)  oleh  FIS1    2008 
Sila Nilai abstrak ini : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------