eramuslim - Kubaca kembali lembar pertama buku lusuh dihadapanku. Seperti tak percaya kubalik lembar demi lembarnya, untuk
memastikan kembali isinya. Ya Allah, memang benar ini tulisanku!!!
Buku merah itu kutemukan di kedudukan paling bawah, di laci meja belajarku. Sejak pagi hari tadi, hingga sekarang pukul 11 siang, aku sibuk mengemaskan kamarku yang tidak terurus. Penyebab utamanya tak lain karena kesibukanku di pejabat yang memuncak beberapa bulan ini.
Kembali kuamati buku yang hujungnya telah termakan kutu buku. Masing-masing halamannya hanya terbahagi dalam tiga bahagian. Pertama, bahagian hari dan tanggal, selanjutnya aktiviti, dan terakhir keterangan. Kuamati baris pertamanya. Jumat, 14 Julai 2000. Sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya�. Sholat sunnah: tahajud, rawatib dan dhuha. Baca Al Qur�an: 3 juz, wirid: istighfar 500 kali, Tasbih, Tahmid dan Tahlil, masing-masing 100 kali, Al Ma�tsurat pagi dan petang, Surat Yaasin, Waqiah dan Ar Rahman. Selanjutnya, kulihat bahagian keterangan. Terlihat semua bertanda di bahagian �terlaksana�, yang merupakan sebahagian dari kolom keterangan. Lalu, tanganku yang kotor oleh debu, refleks membalik lembar demi lembarnya yang tidak menampakkan perbedaan, selain menampakkan peningkatan aktiviti ibadah, dari hari ke hari. Dan buku itu, berakhir ditulis pada tanggal 24 Ogos 2000. Subhannallah� mataku nanar, dan setetes air beningnya tak dapat kutahan lagi.
***
Otakku berputar untuk mengingat tahun berapa saat ini. Robb, sudah tiga tahun hamba berpaling dari-Mu. Dan aku seperti tak merasakannya. Kesibukan yang kemudian berubah menjadi rutin dan membuat hatiku mengeras karena malah menyukainya, telah mengguasai diriku selama ini. Mungkin banyak orang berkata, bahawa catatan ibadahku tadi bukan apa-apa karena amalan sunnahnya hanya beberapa. Namun bagiku, saat itu adalah puncak kedekatanku dengan-Nya. Tuhan Pencipta Alam Semesta. Karena berikutnya, aku menjauh dan semakin menjauhi-Nya. Astaghfirullahal adziim.
Ingatanku kembali menyusuri tiga tahun yang tidak berasa. Aku ingat, kejauhanku dengan Robb-ku diawali dengan beratnya melaksanakan ibadah wajib tepat waktu. Lantas bersambung ke ibadah sunnah yang mulai hilang satu-satu. Akhirnya, sholat lima waktu hanya sekadarnya. Sekedar menunaikan kewajiban. Sementara berdoa, bukan lagi kurasakan sebagai cara berkomunikasi dengan Allah Yang Maha Pemurah, melainkan hanya aliran kata-kata yang tak pernah kuresapi maknanya. Air mata pun tak pernah lagi menggugur deras, saat tangan ini menadah. Apalagi wirid, karena seusai salam kubaca, telekung pun langsung kutanggal. Astaghfirullahal adziim�
***
Ya Allah, tiga tahun yang sia-sia. Kerugian yang tiada terhitung. Tuhanku, hamba ingin bangkit. Terlalu banyak titik dosa yang terukir di lembaran hidup hamba, tak sebanding dengan amalan kebajikan yang hamba lakukan. Robb, beri hamba kekuatan untuk bangkit menuju-Mu� agar hati ini kembali tenang. Agar segala yang hamba lakukan mendapat ridho-Mu� Hidup hamba gersang, Tuhanku. Tak ada air sejuk yang mengaliri jalan yang hamba tempuh� tak ada tempat mengadu seperti dulu Ya Allah� hamba terlalu memanjakan diri hamba untuk tidur semalaman, hanya karena alasan terlalu lelah. Padahal, kelelahan yang sesungguhnya adalah saat ini, saat hamba jauh dari-Mu. Ya Allah� ampunkan dosa hamba, Robb. Terima hamba kembali Ya Allah� jangan biarkan hamba jauh dari nur-Mu Yaa Rohim. Hamba ingin sekali kembali, berkhalwat dengan-Mu setiap malam dan menunaikan segala perintah-Mu seperti dulu lagi. Hamba rindu kepada-Mu Ya Allah� teramat rindu. >-)